| Bon Jovi Antara New Jersey dan Jepang |
|
|
|
| Tuesday, 12 August 2008 10:00 |
|
There are no translations available. Seorang cowok berlari di tengah jalanan kota yang ramai, menumpang truk sampah dan kembali berlari menembus kemacetan. Di sisi lain kota itu, sebuah band rock menggelar konser rahasia dalam terowongan. Si cowok berjuang mati-matian agar bisa sampai ke tempat konser rahasia
Bon Jovi.Cerita di atas memang bukan kisah nyata, tetapi hanya sekelumit cerita dari video klip lagu It's My Life, tembang terbaru Bon Jovi. Video klip yang dibuat oleh Wayne Isham di Los Angeles itu seakan mewakili para fans Bon Jovi yang ingin melihat kembali aksi Jon Bon Jovi (vokal), Richie Sambora (gitar), David Bryan (kibor) dan Tico Torres (dram) di atas panggung. Bulan Mei lalu Bon Jovi meluncurkan album Crush, album studio pertama setelah These Days ('95). Uniknya pasar Asia dan Eropa menjadi pasar pertama untuk band asal New Jersey ini. Baru Juni Crush dirilis di negara asal mereka, Amerika Serikat. ''Untuk tur pun, Bon Jovi memilih Jepang sebagai negara pertama,'' ujar Reggie Suriasubrata dari Universal Music Indonesia. Tampaknya Asia memang lebih akrab dengan Bon Jovi ketimbang publik Amerika. Saat ini album Crush sudah berada di posisi puncak tangga album internasional Jepang. Di Indonesia sendiri nama Bon Jovi juga sangat populer. Sejak dirilis tanggal 29 Mei lalu album Crush telah terjual sebanyak 60 ribu keping. Angka penjualan album Bon Jovi di Indonesia rata-rata terus meningkat dari album pertama Bon Jovi ('84) yang terjual sekitar 16 ribu copy hingga album These Days yang mencatat angka 315 ribu copy. Album kumpulan lagu hit Cross Road yang melejitkan single Always ternyata menjadi album Bon Jovi terlaris di Indonesia. Album ini terjual sebanyak 790 ribu keping. Angka penjualan album Cross Road saat itu mungkin juga terdongkrak oleh suksesnya konser mereka di Jakarta, lima tahun lalu. ''Waktu itu Bon Jovi tengah menggelar tur dunia untuk album Cross Road. Penonton yang datang ke Ancol banyak sekali. Begitu membludaknya sampai-sampai saya harus mengambil jalan pintas lewat laut dengan rakit untuk bisa datang ke lokasi,'' tutur Reggie mengenang. Sampai sekarang pun lagu-lagu lama Bon Jovi tetap melekat dalam ingatan penggemar mereka. Saat kelompok rock Indonesia, U'Camp, tampil di arena PRJ belum lama ini, mereka mendapat sambutan meriah ketika membawakan lagu-lagu Bon Jovi. Penonton pun hafal semua syair lagu Bon Jovi yang dibawakan U'Camp dan tak segan-segan ikut bernyanyi. ''Lagu-lagu Bon Jovi itu simpel dan easy listening. Komposisinya tidak serumit lagu kelompok Rush. Sebenarnya sebagian besar musik dalam lagu Bon Jovi hampir sama, tetapi mereka mahir mengolahnya sehingga terdengar lain,'' ujar Sandy Andarusman, dramer U'Camp. Kesuksesan Bon Jovi, kata Sandy, tak lepas dari kejeniusan Jon Bon Jovi yang menjadi otak kelompok tersebut. Menurut Sandy ini terbukti dari dua album solo Jon yang juga berhasil mencetak hit dengan formula yang hampir sama, tetapi dengan gaya permainan musisi yang berbeda. ''Dalam album Blaze Of Glory ada permainan gitar Jeff Beck dan Tico Torres hanya bermain dram pada satu lagu saja,'' ujar Sandy. Kini mereka kembali lewat album Crush. Saat mendengar single pertama It's My Life, kata Sandy, kita langsung bisa membayangkan suasana konser yang meriah dengan penonton yang tak henti bergoyang. Single ini langsung menjadi hit di Asia dan Eropa. Selain It's My Life, mereka juga mengemas 12 lagu lain plus satu bonus track yang punya kesempatan sama untuk menjadi lagu hit. ''Sound album baru ini agak berbeda dengan album-album yang dirilis tahun '86 atau '87. Tetapi bukan berarti kami meniru band lain. Sound kami sekarang, meski terdengar lebih modern, adalah perpanjangan dari sound-sound kami sebelumnya,'' ujar Jon tentang album Crush yang banyak menampilkan looping dram. ''Kami juga memasukkan beragam suara dram machine yang digabung dengan sound klasik Bon Jovi. Sound yang sekarang ini bisa dibilang sound Bon Jovi versi 2000,'' kata Richie Sambora menambahkan. Nama album itu sendiri, menurut Jon, muncul begitu saja saat mereka sibuk memikirkan judul yang bisa diinterpretasikan lain oleh setiap orang. ''Kata 'crush' dalam kalimat 'I got crush on you' (Saya naksir kamu) kan lain artinya dengan 'I got crush last night'(tadi malam saya mendapat kecelakaan),'' ujar Jon menjelaskan. Ciri khas Bon Jovi yang selalu menampilkan lagu balada cinta dalam album-albumnya juga tidak mereka tinggalkan. Jika dulu ada lagu Always dan These Ain't A Love Song (These Days) maka kini ada lagu Thank You For Loving Me yang terinspirasi oleh film Meet Joe Black. Menurut Jon, kalimat 'Thank you for loving me' diambil dari percakapan Joe Black (Brad Pitt) dengan kekasihnya di film tersebut. ''Terima kasih buat Brad Pitt,'' ujar Jon sambil tertawa. Selain Thank You For Loving Me yang ditulis hanya dalam waktu 10 menit, lagu Save The World juga diilhami oleh sebuah film. Lagu tersebut ditulis berdasarkan skenario film Armageddon yang diberikan sutradara Jerry Bruckheimer kepada Jon. Saat itu Jerry meminta Jon untuk membuatkan soundtrack film Armageddon. Maka Jon pun menulis lagu berdasarkan karakter yang diperankan Ben Affleck, seorang pekerja tambang yang berpacaran dengan putri bos-nya dan dikirim ke luar angkasa untuk menyelamatkan dunia. Ciri khas Bon Jovi sebagai band rock mereka tampilkan lewat lagu-lagu bertempo cepat seperti One Wild Night dan Next 100 years. Lagu One Wild Night menurut Richie mengingatkan dia pada lagu Bad Medicine dengan line gitar yang bagus. Sementara Next 100 Years bagi Richie menjadi semacam pernyataan dari Bon Jovi, ''Kami tetap sebuah band rock. Kami benar-benar bisa main musik dan silakan buktikan sendiri dengan datang ke konser kami.'' Ucapan Richie tersebut untuk menepis anggapan bahwa musik Bon Jovi kini lebih nge-pop. Anggapan tersebut muncul setelah merilis album These Days dan vakum beberapa tahun. Bon Jovi bahkan sempat diisukan bubar karena para personilnya lebih asyik dengan proyek solo. Jon, misalnya, dalam lima tahun terakhir ini lebih suka menggeluti dunia akting. Diawali dengan penampilan dua menit dalam film Young Guns II, kemudian Moonlight & Valentino, The Leading Man, dan terakhir (yang belum beredar di sini) adalah film U-571. Film yang mengambil lokasi syuting di Roma, Italia, dan Malta tersebut digarap tepat sebelum proses pembuatan album Crush. Bahkan lagu Captain Crash & The Beauty Queen From Mars ditulis Jon dan Richie di Roma. Bintang muda Will Estes yang berperan sebagai Rabbit dalam U-571 bersama Jon bahkan menjadi model untuk klip It's My Life. Dalam klip ini ia harus berperan sebagai Tommy, pemuda yang rela berlari sepanjang kota untuk melihat konser Bon Jovi sekaligus menemui Gina, pacarnya. Sejarah band rock yang lebih digandrungi kaum Hawa ini dimulai saat Jon Bon Jovi bertemu David Rashbum atau David Bryan (eks Phantom Opera) di SMA Sayreville, New Jersey. Jon dan David yang sama-sama suka musik rock kemudian bergabung dengan Atlantic City Expressway, sebuah band R&B yang membawakan lagu-lagu orang lain. David lalu belajar musik di Juilliard School of Music, New York dan Jon pun ikut pindah. Di New York, Jon bekerja di studio rekaman Power Station milik sepupunya, Tony. Di tempat tersebut Jon bisa bertemu dengan musisi-musisi besar seperti The Rolling Stones, Queen, dan David Bowie. Dia juga bisa merekam lagu-lagunya sendiri saat studio kosong dan lagu Runaway ternyata menarik perhatian Tony. Lagu tersebut kemudian dijadikan kaset demo oleh Billy Squier dan dimasukkan dalam album kompilasi artis lokal. Masa kerja dua tahun di Power Station oleh Jon lalu diabadikan dalam album The Power Station Years. Jon kemudian kembali bergabung dengan David, kali ini mereka membentuk band baru bernama Wild Ones, tetapi tidak bertahan lama. Sementara Jon dan David sibuk mendatangi berbagai perusahaan rekaman di West Coast, lagu Runaway menjadi hit di East Coast. Lagu tersebut membuahkan sebuah kontrak atas nama Jon dari Polygram Records di tahun '83. Kontrak tersebut membuat Jon berhak memilih siapa saja untuk menjadi personil band-nya. Orang pertama yang ia pilih tentu saja David yang piawai bermain kibor. Mereka lalu mengajak pemain bas Alec John Such (eks Phantom Opera) dan dramer berdarah Kuba, Tico Torres (eks Knock Out). Dave Sabo (nantinya menjadi personil Skid Row)lalu menjadi gitaris pertama mereka, tetapi hanya sebentar. Jon memecatnya dan mengisi posisinya dengan Richie Sambora, seorang gitaris session. Band baru bernama Bon Jovi ini kemudian menggarap debut album Bon Jovi dan tampil bersama ZZ Top di Madison Squre Garden, New York. Aksi perdana mereka ternyata cukup menarik perhatian sehingga Jon berani menolak tawaran membintangi film Footloose agar bisa lebih berkonsentrasi di musik (film Footloose akhirnya dibintangi Kevin Beacon). Rilis album Bon Jovi ('84) lalu diikuti sejumlah tur bareng The Scorpions, Whitesnake, dan Kiss. Imej sebagai band polesan muncul saat album ke dua, 78000 Fahrenheit ('85) dirilis. Album ini disambut dengan nada sinis oleh kalangan kritikus dan pers. Bon Jovi pun menanggapi komentar sinis mereka dengan album Slippery When Wet yang menjadi album rock terlaris sepanjang tahun '87 (di Indonesia album ini terjual sekitar 37 ribu copy). Lewat Slippery When Wet, Bon Jovi membukukan beberapa lagu hit seperti You Give Love A Bad Name, Livin' On A Prayer dan lagu balada Never Say Goodbye. Album New Jersey ('88) menjadi album mereka yang dinilai paling baik dari segi musikal. Lewat nomor-nomor dinamis Bad Medicine, Living In Sin, dan Blood On Blood, konser mereka dalam rangkaian tur panjang Jersey Syndicate, selalu dipenuhi penonton dan albumnya sendiri terjual sekitar empat juta copy. Selain tiga lagu di atas mereka juga mencetak lagu hit Lay Your Hands On Me dan I'll Be There For You. Sayangnya tur panjang yang nyaris tanpa jeda (mereka berlibur sebentar saat Jon menikahi Dorothea Hurley) tersebut membuat para personil Bon Jovi jenuh. Ketegangan sempat terjadi antara Jon dan Richie. Richie merasa Jon bertindak seperti diktator dan membuatnya tidak bebas untuk mengembangkan permainan gitar. Usai tur Jon mulai menggarap album solo Blaze Of Glory ('90). Album ini membuat orang menyangka Bon Jovi telah bubar meski mereka menyangkal berita itu berkali-kali. Kelima cowok asal New Jersey ini kembali bergabung saat mengikuti konser amal di kota kelahirannya dan menggelar konser di Jepang. Tico dan David kemudian membantu Richie mengemas album solo pertamanya, Stranger In This Town yang juga menampilkan gitaris Eric Clapton. Setahun kemudian mereka sepakat bersatu kembali untuk membuat album baru bareng produser Bob Rock (The Cult, Metallica, dan Nirvana). Hasilnya adalah album Keep The Faith ('92) yang terjual sebanyak 10 juta copy. Persoalan baru kembali muncul, kesehatan Alec menurun drastis membuatnya terpaksa keluar dari band. Sebelum keluar, Alec masih sempat membantu penggarapan album the best, Cross Road yang mencantumkan dua lagu baru, Always dan Someday I'll Be Saturday Night. Setahun setelah merilis Cross Road, mereka melempar album These Days ke pasaran dan menggelar tur bersama pemain bas Hugh McDonald. ''Hugh mengikuti tur kami sejak album These Days. Sebenarnya ia sudah lama terlibat dengan musik Bon Jovi dan bermain dalam beberapa lagu kami sejak era Runaway di tahun '82,'' tutur Jon dalam ruang chatting Internet di situs Launch bulan Pebruari lalu. Setelah menggelar tur dunia, Bon Jovi kembali vakum dan para personilnya mulai lagi menggarap proyek solo. Jon merilis Destination Anywhere dan semakin sering berakting, Richie meluncurkan album solo kedua, Undiscovered Soul ('97), David menggarap musik teater, dan Tico mulai mendalami seni lukis dan ukir. Sementara kabar terakhir dari Alec, bulan Mei lalu ia melelang lebih dari dari 100 album Platinum/Gold, 50 gitar klasik, amplifier, memorabilia Bon Jovi, dan kostum pentas yang ia pakai saat tur. Jika di tahun 2000 ini Alec seakan ingin lepas dari hal-hal yang berbau Bon Jovi, maka Jon, Richie, Tico, dan David malah sebaliknya. Mereka tampak sangat bersemangat untuk menghidupkan kembali band yang mengangkat genre hair metal tersebut. Masih dengan musik yang sama, Bon Jovi kini tampil dengan dandanan lebih dewasa dan rambut lebih pendek. ''Memang dulu pernah ada beberapa masalah, tetapi kami selalu memakai sabuk pengaman dan bisa selamat sampai sekarang,'' ujar Jon sambil bercanda. Saat menggelar konser pemanasan di Eropa, sebelum tur panjang, Jon mengajak kedua anaknya menonton konser. ''Ini untuk membuka mata mereka. Selama ini mereka lebih mengenal ayahnya sebagai bintang film,'' ujar Jon tentang kedua anaknya yang masih belia. Dalam album Crush, Jon pun mencantumkan satu lagu yang ia tulis khusus untuk putri sulungnya, Got A Girl. Sepintas lagu tersebut seperti bercerita tentang seorang cowok yang baru saja mendapat kekasih, di akhir lagu Jon menulis, 'She always be a five year old princes to me' (bagiku, ia tetap seorang putri yang berumur lima tahun selamanya). DISKOGRAFI |
| Last Updated on Tuesday, 12 January 2010 05:55 |














